“Menurut kamu kalau matahari ngambek, bulan mau nggak ya tukeran job sama matahari?” tanyaku. konyol
“Menurut kamu bulan sebaik itu kah untuk menggantikan tugas sang matahari?” jawabnya dengan lembut.
“Ya nggak juga.”
“Sepertinya bila malam terjadi sepanjang masa, bikin nggak nyaman.”
‘Bohong. Apabila sepanjang hari adalah malam tentu aku akan menjadi orang yang paling bahagia.’ tentu ini kalimat ini hanya berputar dalam pikiranku tanpa berani mengucapkan secara lantang.
“Tapi, apabila benar malam akan terjadi sepanjang masa sepertinya akan terasa nyaman, aku suka malam.”
“Kenapa?” aku menoleh, menunggu jawabnya
“Semua orang di dunia tak akan pernah merasa lelah karena bisa bersama dengan keluarganya, malam merupakan waktu paling nyaman, selain itu aku senang menghabiskan malam seperti ini, melihat bintang dari balkon.”
“Bersama denganku?”
Ia terdiam, sepertinya memastikan bahwa dirinya tak salah dengar, kemudian mendongak ke atas langit gelap yang cukup cerah malam itu.
‘bodoh, kenapa tanya hal seperti itu’
“Bintang malam ini cari deh yang paling cerah, yang paling menarik semua mata.”
“Semua cerah, semua menarik mataku, bagiku semua bintang berbeda pendar cahayanya tetapi memiliki satu tujuan akhir, menyinari malam, tanpa pandang bulu entah itu mendung ataupun tidak.”
‘ini jawaban asal, mataku minus dan terlalu malas mengambil kacamata.’
“Aku setuju. Semua berbeda tetapi punya satu tujuan yang sama. Yang sepertinya sama seperti kita.”
‘gimana?’
Aku terdiam mendengar jawabnya tanpa berani melihat dirinya lama-lama, terlalu takut mendengar jawaban yang berputar di kepala.
“Dalam mencinta kita berbeda. Aku seperti ksatria penjaga dan kamu putri di dalam istana, seperti bulan yang memeluk bintang setiap malam, aku bulan kamu bintan, dan juga seperti matahari dan bulan diatas. Kita pada awalnya terpisah tetapi tetap berjalan bersama dan bersinar bersama. Tentu aku mencintai malam tenang seperti hari ini, di hari-hari sebelumnya pun tetap sama. Iya, denganmu, aku mencintai gelapnya malam meski tak ada benda langit yang bertaburan, meski awal hari mulanya sangatlah buruk.”
Aku terdiam cukup lama mendengar semua tutur kata yang ia sampaikan cukup panjang itu, benar posisi kami tidak berdekatan melainkan bersebelahan, terpisah antar balkon kamar kami masing-masing dengan posisi menyandar pada tembok, ia abu-abu diriku cream, diantara tembok tipis itu entah diriku saja yang mendengar degup jantung atau ia pun juga.
“Jadi, masih mau membuat diriku semakin mencintai malam?”
‘dasar bodoh’
“Kamu masih butuh jawaban seperti apa, Ken?”
Malam itu, dengan tiupan angin malam yang semakin dingin, bintang yang semakin bertambah untuk mewarnai langit malam, dan bulan mulai menunjukkan parasnya seperti tersenyum melihat kedua muda mudi yang sedang berusaha mengatur suasana malam itu menjadi semakin manis tanpa harus mendekat melainkan dengan senyum manis dan tawa tawa kecil yang terpatri serta terlontar pada mereka, dengan masing masing tak sabar menunggu ratusan malam lainnya tuk mereka jalani. Bersama, kali ini menjadi sang bulan dan bintang yang selalu memeluk satu sama lain.