Jelas sekali ketika dua orang yang tak dikenal berbagi cara kasih sayang dengan kiss each other right on the lips merupakan hal yang tak lazim. Yah, normalnya begitu, bagi sebagian masyarakat, seperti itu.
Tetapi, apalah kita. Jauh dari kata ‘normal’ bukan berarti kita abnormal. melainkan ‘berbeda.’ bold, underline, size 20 font TMR.
Our first met was not in a good either bad but, we tasted each other lips it is like we’ve been meeting each other for a long time but, we just did small talk and suddenly you put your freshly maroon, not-so thin lips smelt like fresh apple to mine which smelt mint cigarette lingered.
Mengejutkan? sangat. Ingin mengulang kembali? she considered it. dengan ‘dia’ lagi? yes. it must be him.
It’s weird that his lips make everything strange.
Semua yang awalnya terasa tiada debaran kencang ketika melihatnya berbicara, kini berubah.
his lips are not shaped thin either or thick but, light the quenched firework; neither reddish nor pinkish but, its perks his own color and mingled utterly with mine; looks like found his perfect opponent; without any kind of lips product, his lips contained any kind of drugs that every move and taste still lingering on mine, it’s addictive.
his lips changed everything.
tentang diri ini yang selalu mempercayai bahwa awal dari suatu hal harus dilalui dengan hal kecil yang manis dan sedikit susah untuk dilupakan untuk menuju langkah selanjutnya yang lebih dari sebelumnya.
emerged as
something that you won’t forget since day one, that is, his voluptuous lips.